MWC PAITON — Seminar bertajuk Meneguhkan Trilogi Ukhuwah Menyongsong Indonesia Emas 2045 yang diselenggarakan di Aula MWCNU Paiton pada Kamis, 16 April 2026, berlangsung dengan penuh antusiasme, hangat, dan sarat gagasan strategis. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang penyampaian materi, tetapi juga berkembang menjadi forum reflektif yang mempertemukan pandangan keagamaan, kebangsaan, dan tanggung jawab generasi masa depan dalam mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045.
Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut, KH. Barzan Ahmadi, selaku Rois Syuriah MWCNU Paiton, dan Moch. Mahrus, anggota DPRD Provinsi Jawa Timur. Seminar dipandu oleh Ustadz H. Masduqi Syahid sebagai moderator, yang mampu menghidupkan suasana forum dengan alur diskusi yang tertib, komunikatif, dan menggugah partisipasi peserta.
Sejak awal acara, seminar ini telah menunjukkan daya tariknya. Para peserta yang terdiri dari unsur pengurus, kader, tokoh masyarakat, pemuda, dan jamaah Nahdliyin tampak mengikuti jalannya kegiatan dengan sungguh-sungguh. Materi yang disampaikan para narasumber tidak hanya menyoroti makna Indonesia Emas 2045 sebagai visi pembangunan nasional, tetapi juga menekankan pentingnya peran masyarakat, khususnya warga Nahdlatul Ulama, dalam menyiapkan generasi yang religius, berakhlak, cerdas, serta memiliki kesadaran kebangsaan yang kuat.
Dalam paparannya, KH. Barzan Ahmadi menekankan bahwa Indonesia Emas 2045 tidak boleh dipahami semata sebagai target kemajuan ekonomi dan pembangunan fisik, melainkan juga harus diiringi dengan penguatan moral, spiritual, dan karakter kebangsaan. Menurut beliau, bangsa yang besar tidak cukup hanya ditopang oleh kecanggihan teknologi dan kekuatan ekonomi, tetapi juga oleh kualitas manusianya yang beradab, beriman, dan memiliki komitmen terhadap nilai-nilai keislaman serta keindonesiaan.
Sementara itu, Moch. Mahrus menyampaikan perspektif kebijakan dan pembangunan yang lebih luas. Ia menjelaskan bahwa bonus demografi, perkembangan teknologi, dan transformasi sosial yang sedang berlangsung harus dijawab dengan kesiapan sumber daya manusia yang unggul. Ia juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara lembaga pendidikan, tokoh agama, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun fondasi menuju Indonesia Emas 2045. Menurutnya, cita-cita besar bangsa tidak akan tercapai tanpa kesadaran kolektif dan kerja bersama lintas sektor.
Namun demikian, seminar ini semakin hidup dan membara ketika memasuki sesi diskusi. Pada bagian ini, berbagai pandangan, pertanyaan, dan aspirasi peserta mulai mengalir, menandakan bahwa tema yang diangkat benar-benar menyentuh kesadaran bersama. Salah satu momen penting dalam diskusi adalah ketika Dr. Syamsuri Hasan menyampaikan pernyataan yang penuh harapan sekaligus masukan konstruktif terhadap arah pembangunan generasi ke depan.
Dalam penyampaiannya, Dr. Syamsuri Hasan menegaskan bahwa Indonesia Emas 2045 harus dibangun mulai dari sekarang melalui kerja-kerja nyata yang menyentuh basis masyarakat. Ia mengingatkan bahwa visi besar bangsa tidak boleh hanya berhenti pada slogan, seminar, atau wacana, tetapi harus diterjemahkan dalam gerakan pendidikan, pembinaan karakter, penguatan ekonomi umat, dan pembangunan kesadaran sosial yang berkelanjutan. Menurutnya, jika generasi muda tidak dipersiapkan dengan serius dari aspek moral, intelektual, dan sosial, maka bonus demografi justru dapat berubah menjadi beban demografi.
Lebih jauh, beliau juga memberikan masukan agar lembaga-lembaga keagamaan, termasuk NU di tingkat kecamatan, ranting, dan badan otonom, mengambil peran lebih aktif dalam mengawal pembentukan generasi unggul. Ia berharap MWCNU Paiton tidak hanya menjadi pusat kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi pusat pencerahan sosial, pendidikan kader, dan penguatan wawasan kebangsaan. Pernyataan tersebut disambut antusias oleh peserta, karena dinilai menyentuh inti persoalan sekaligus memberikan arah praktis bagi langkah ke depan.
Suasana diskusi pun menjadi semakin menarik. Forum tidak lagi sekadar menjadi tempat bertukar pendapat, melainkan berubah menjadi ruang bersama untuk meneguhkan komitmen menghadapi masa depan bangsa. Beberapa peserta tampak aktif merespons, baik dengan pertanyaan maupun pandangan tambahan, sehingga seminar berlangsung secara dialogis dan hidup. Moderator berhasil menjaga ritme diskusi agar tetap fokus, namun tetap memberi ruang bagi dinamika pemikiran yang berkembang.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa tema Indonesia Emas 2045 memiliki relevansi yang sangat kuat di tengah masyarakat, terutama ketika dibahas dalam kerangka nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan tanggung jawab sosial. Forum semacam ini menjadi penting bukan hanya untuk memperluas wawasan, tetapi juga untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap masa depan bangsa. Indonesia Emas tidak akan lahir secara otomatis, melainkan harus diperjuangkan melalui pendidikan, persatuan, keteladanan, dan pembinaan generasi secara konsisten.
Seminar yang digelar oleh MWCNU Paiton ini pada akhirnya menjadi bukti bahwa ruang-ruang diskusi di lingkungan NU tetap memiliki energi besar dalam merawat gagasan, membangun kesadaran, dan menggerakkan harapan. Dengan kehadiran tokoh agama, wakil rakyat, akademisi, dan masyarakat dalam satu forum, kegiatan ini tidak hanya memperkaya wawasan peserta, tetapi juga menegaskan bahwa cita-cita Indonesia Emas 2045 harus dirawat bersama dalam semangat ukhuwah, ilmu, dan pengabdian. (MI7)