Khotmil Qur’an dan Kajian Arba’in Nawawi Warnai Lailatul Ijtima’ Ranting NU Pandean

MWC PAITON - Kegiatan rutin Lailatul Ijtima’ Ranting NU Pandean kembali digelar dengan penuh khidmat pada Jumat, 17 April 2026, bertempat di Musholla Al-Muhsin kediaman Ustadz H. Nur Kholis. Kegiatan ini menjadi bagian dari tradisi keagamaan warga Nahdliyin yang terus dirawat sebagai sarana memperkuat spiritualitas, mempererat silaturahmi, dan meneguhkan komitmen keorganisasian di lingkungan masyarakat.

Lailatul Ijtima’ ini merupakan kegiatan rutin yang selama ini selalu dilaksanakan setiap malam Sabtu Kliwon. Pada umumnya, kegiatan tersebut bertempat di rumah-rumah jamaah anggota NU secara bergiliran, sehingga pelaksanaannya selalu berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah lainnya. Pola ini menjadi ciri khas yang memperlihatkan kuatnya semangat kebersamaan, gotong royong, dan kedekatan sosial antarwarga Nahdliyin di tingkat ranting.

Rangkaian kegiatan dimulai sejak pagi hari dengan pelaksanaan Khotmil Qur’an yang dipersembahkan untuk para masyayikh, para pendiri, serta pengurus Nahdlatul Ulama. Suasana khusyuk begitu terasa ketika para jamaah bersama-sama melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an sebagai bentuk penghormatan dan doa untuk para ulama yang telah berjasa dalam merintis, membesarkan, dan menjaga perjuangan NU hingga saat ini.

Khotmil Qur’an tersebut tidak hanya menjadi amaliah rutin, tetapi juga memiliki makna spiritual yang mendalam. Melalui pembacaan Al-Qur’an, jamaah diajak untuk meneguhkan kembali hubungan ruhani dengan para pendahulu, sekaligus menanamkan kesadaran bahwa keberlangsungan perjuangan keagamaan hari ini tidak dapat dilepaskan dari peran besar para masyayikh dan pendiri organisasi.

Setelah kegiatan pagi selesai, malam harinya dilanjutkan dengan istighasah, sholat isya' dan hajat kemudian dilanjutkan dengan kajian kitab Arba’in Nawawi yang diasuh oleh Ketua Tanfidziyah MWCNU Paiton, Ustadz H. Zainul Arifin, M.Pd. Kehadiran beliau dalam forum tersebut menambah kekhidmatan kegiatan sekaligus memberikan penguatan keilmuan bagi jamaah yang hadir.

Dalam pengajiannya, Ustadz H. Zainul Arifin, M.Pd menguraikan pentingnya memahami hadis-hadis Nabi sebagai fondasi pembentukan akhlak, ibadah, dan kehidupan sosial umat Islam. Kitab Arba’in Nawawi yang berisi kumpulan hadis-hadis pokok dipandang sangat relevan untuk dikaji dalam forum masyarakat, karena kandungannya menyentuh berbagai aspek dasar dalam kehidupan keislaman.

Beliau juga menekankan bahwa majelis seperti Lailatul Ijtima’ bukan sekadar forum seremonial, melainkan ruang pembelajaran bersama yang mempertemukan dimensi dzikir, doa, silaturahmi, dan pendalaman ilmu agama. Dengan demikian, kegiatan ini memiliki nilai penting dalam menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah di tengah masyarakat.

Antusiasme jamaah terlihat dari kehadiran warga yang mengikuti kegiatan sejak pagi hingga berlangsungnya pengajian kitab. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi keagamaan yang dirawat oleh Ranting NU Pandean tetap mendapat tempat yang kuat di hati masyarakat. Kebersamaan yang terbangun dalam kegiatan tersebut juga mencerminkan kokohnya semangat gotong royong dan kecintaan warga terhadap NU.

Kegiatan Lailatul Ijtima’ seperti ini memiliki arti strategis, karena selain menjadi media penguatan spiritual, juga berfungsi sebagai sarana kaderisasi sosial-keagamaan di tingkat ranting. Dari forum semacam inilah nilai-nilai ke-NU-an, penghormatan kepada ulama, serta semangat menjaga tradisi keislaman yang ramah dan moderat terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Melalui kegiatan rutin ini, Ranting NU Pandean menegaskan komitmennya untuk terus menghidupkan masjid sebagai pusat ibadah, pendidikan, dan konsolidasi umat. Lailatul Ijtima’ bukan hanya menjadi agenda rutin bulanan, melainkan juga bagian dari ikhtiar merawat warisan spiritual dan intelektual Nahdlatul Ulama agar tetap hidup dan membumi di tengah masyarakat. (MI7)