Nama K.H. Abdul Wahid Hasyim mungkin sering kita lihat di papan jalan utama Jakarta Pusat. Namun, lebih dari sekadar nama jalan, putra pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratusyaikh Hasyim Asy'ari ini adalah sosok jenius yang menjadi kunci harmoni antara Islam dan kebangsaan di awal berdirinya Republik Indonesia.
Lahir di Tebuireng pada 1 Juni 1914, Wahid Hasyim adalah sosok "dobrak" di masanya. Meskipun tumbuh besar tanpa pendidikan sekolah formal Belanda karena prinsip anti-penjajah ayahnya, ia membuktikan bahwa kecerdasan tidak butuh ijazah kolonial. Ia belajar mandiri (autodidak), menguasai bahasa Inggris, Belanda, hingga fasih berbahasa Arab.
Penyelamat Persatuan: Di Balik "Ketuhanan Yang Maha Esa"
Peran paling monumental Wahid Hasyim tercatat dalam sejarah perumusan Pancasila. Saat itu, terjadi kebuntuan terkait tujuh kata dalam Piagam Jakarta: "dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya". Kalimat ini ditolak oleh saudara-saudara kita dari Indonesia Timur karena dianggap tidak inklusif bagi penganut agama non-Muslim.
Sebagai tokoh muda yang moderat dan berwawasan luas, Wahid Hasyim menjadi sosok kunci yang merumuskan perubahan menjadi "Ketuhanan Yang Maha Esa". Inilah bukti kebesaran jiwa Wahid Hasyim; ia memilih menjaga persatuan Indonesia di atas ego kelompok, demi memastikan seluruh rakyat dari Sabang sampai Merauke merasa memiliki negara ini.
Merevolusi Dunia Pesantren
Di usia 21 tahun, setelah menimba ilmu di Makkah, Wahid Hasyim melakukan "gebrakan" di Tebuireng. Ia sadar bahwa santri tidak boleh hanya mengerti kitab kuning, tapi juga harus paham ilmu umum.
Ia mendirikan Madrasah Nidzamiyah, sebuah sekolah yang menggabungkan pola pesantren dengan kurikulum ilmu umum. Di sana, santri tidak hanya mengaji, tapi juga diajari bahasa Inggris, Belanda, hingga ilmu pengetahuan modern. Inilah cikal bakal pesantren modern yang kita kenal sekarang.
Menteri Luar Biasa di Usia Muda
Baru berusia 30-an tahun, Wahid Hasyim sudah dipercaya menjadi anggota BPUPKI dan PPKI. Pasca-kemerdekaan, ia dilantik oleh Presiden Soekarno sebagai Menteri Negara dan kemudian menjadi Menteri Agama RI pertama.
Ia menjabat sebagai Menteri Agama dalam tiga kabinet berturut-turut (Hatta, Natsir, dan Sukiman). Di tangannya, Kementerian Agama menjadi instansi yang memperkokoh toleransi dan mengatur kehidupan beragama di Indonesia dengan cara yang modern namun tetap berakar pada nilai-nilai pesantren.
Trajedi di Jalur Bandung
Nasib berkata lain. Di puncak kariernya sebagai Ketua Umum PBNU, Wahid Hasyim mengalami kecelakaan tragis. Pada 18 April 1953, dalam perjalanan menuju Sumedang, mobil yang ditumpanginya mengalami kecelakaan di wilayah Cimindi, Bandung.
Dunia Islam dan Indonesia berduka. Sang jenius pesantren itu wafat di usia yang sangat muda, 38 tahun. Meski hidupnya singkat, ia meninggalkan warisan yang abadi: Pancasila yang mempersatukan kita, sistem pendidikan pesantren yang modern, dan putra-putra hebat—salah satunya adalah Gus Dur (Abdurrahman Wahid), Presiden ke-4 RI. (Wikipedia)